Tatapan Tajam Seorang Wanita

Jakartaaaa.. aku dataaaaang..!!!

Sabtu sore yang lalu akhirnya saya sampai di Jakarta menggunakan jasa travel yang drop off di salah satu hotel di bilangan Semanggi, Jakarta. Hmm.. lama juga saya tidak main ke Jakarta. Cuaca mendung, ternyata sama juga seperti di Bandung.

Dua minggu sebelumnya, tiba-tiba saya dihubungi oleh sahabat saya yang sekarang menetap di Jakarta. Terdengar suara di handphone yang agak-agak tersipu,
“Tanggal dua dateng yah.. Tanggal dua dateng yah..”,
hmm.. bingung juga sih, tapi mudah ditebak, apalagi kalau bukan mau nikah, hehe..

Nah, saya ke Jakarta untuk menghadiri akad dan resepsi pernikahan sahabat saya dari kita masih kecil. Walau agak terlambat sampai di tujuan, tidak sempat mengabadikan ijab kabul, tapi yang penting saya bisa hadir. Di salah satu ruangan hotel itu, ternyata masih berlangsung prosesi injak telur dan sebagainya (tidak hafal urutannya euy), yang pasti Adat Sunda.

Tidak banyak yang saya kenal orang-orang di dalam ruangan itu, hanya ibunya dan beberapa saudaranya, juga beberapa teman kami. Setelah prosesi adat selesai, kami pun diberikan kesempatan memberi selamat kepada kedua mempelai.
“Selamat yah mas.. selamat.. semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah..”, ucapku.
Lalu kami kembali ke sisi ruangan.

Di sela-sela ruangan, saya melihat ada seorang wanita cantik berjilbab, tidak perlu lama-lama saya memandang wajahnya, dan saya pun dengan cepat dapat mengenali siapa wanita itu.
“Ya.. ya.. saya ingaaat..”, pikirku.
Mungkin sudah belasan tahun kami tidak bertemu. Ingin sekali saya menghampirinya walau cuma sekedar menyapa basa-basi(-busuk). Wanita cantik itu pun menatap saya yang mungkin berusaha mengenali siapa saya. Tapi yang membuat saya cukup terkejut adalah dia menatap dengan sorot mata yang tajam.
“Waduh.. ada apa gerangan.. takut juga kalau sorot matanya setajam itu mah, ya sudahlah nanti aja nyapanya”, dalam hatiku.

Seiring waktu berjalan, berbincang dengan teman, tanpa disadari ternyata saya dan wanita itu sempat beberapa kali saling tatap mata, dan dia masih dengan tatapan yang tajam, tapi bukan seperti acara yang di tv itu lho, Dedy Ko’buset — tatap mata sayaaaa…
Wuiiihhh.. sempat terpikir, jangan-jangan saya mengingatkan dia pada debt collector yang pernah ngejar-ngejar nagih utang kali ya’.. hehe..😛

Waktu menunjukkan pukul 18.40, sebentar lagi acara resepsi dimulai, dan saya beranjak menuju TKP, isi buku tamu — dapet souvenir — masukkan amplop. Sambil menunggu, saya duduk-duduk di kursi, memperhatikan sekeliling ruangan resepsi.

Lagi-lagi.. saya bertemu wanita cantik berjilbab itu dan masih dengan tatapan tajam. Tadinya saya sudah mau memberanikan diri untuk menyapa, tapi karena tatapan matanya yang setajam itu, jadi saya urungkan niat saya. Lagian, kali aja saya memang salah orang.

Waktu menunjukkan pukul 19.00, acara resepsi pun dimulai. Kedua mempelai memasuki ruangan dengan diiringi tari-tarian adat, saya gak tahu istilahnya apa. Dan tak lama ruangan resepsi pun mulai dipenuhi tamu-tamu undangan. Satu-persatu akhirnya saya bertemu dengan teman-teman lama. Saling sapa pada teman-teman, ngobrol sana – ngobrol sini, canda tawa. Lagi–dan–lagi saya sempat ketemu lagi dengan wanita cantik itu, masih–dan–masih dengan tatapan mata yang tajam.

Tak terasa waktu berlalu, kami berpamitan dan akhirnya saya balik Bandung.

Singkatnya, penasaran juga sih apa arti tatapan tajam dari seorang wanita, saya coba googling.
Daaann.. walhasil saya tidak menemukan jawabannya!
Mungkin hanya dia sendiri yang bisa menjawabnya.

PS:
saya yang lagi belajar nulis
kalau bahasa kerennya, michael learn(s) to rock