E-KTP di Kecamatan

Hari Senin pertengahan Bulan Juni kemaren, saya dan kakak mengantri di kecamatan untuk antrian perekaman data E-KTP. Sedikit terasa khawatir akan antrian panjang, tapi untungnya tidak juga. Kami datang pagi sekitar jam 7.30-an dan mendapat urutan 78 dan 79. Tadinya saya kira akan diberi nomor antrian dan bisa ditinggal pergi dulu, tapi ternyata tidak, datang — isi daftar urutan — langsung duduk antrian sesuai dengan daftar urutan. Yah terpaksa gak jadi gak kemana-mana lagi deh. Duduk manis aja ah..😛

Sambil mengantri, kami sempat berbincang dengan sesama pengantri, topiknya masih berhubungan dengan KTP juga. Ada salah satu di antara sesama pengantri cerita, seorang ibu tidak terlalu tua yang berprofesi guru, dia mencoba untuk memperpanjang KTP secara resmi, yang memang katanya gratis. Gratis sih gratis, ya itu, bolak-balik seperti diping-pong, dan jadinya 2 bulan pula, hehe.. dasar birokrasi!

Tak terasa, antrian yang tidak begitu panjang, pindah kursi ke kursi yang lebih depan, akhirnya tiba giliran kami, jam menunjukkan sekitar pukul 9.00. Serahkan data NIK (Nomor Induk Kependudukan) — validasi golongan darah — jepret foto tidak berkacamata — tanda tangan — scan sidik jari — dan tanda tangan kembali untuk pernyataan. Mudah bukan?

Waktu yang dibutuhkan berkisar 3-5 menit per-orang, ada dua meja komputer. Dengan asumsi 1 orang 4 menit waktu perekaman data, maka dalam 1 jam bisa melayani:
60 / 4 = 15
15 x 2 = 30 orang terlayani dalam 1 jam
Jadi tinggal dihitung saja, dapet nomor urutan berapa kira-kira dapet giliran jam berapa. Selamat mengantriiii…😛

Masih seputar antri-mengantri,, saya ingat ibu saya cerita, inginnya sih cepat-cepat untuk berpartisipasi perekaman data E-KTP ini, kira-kira jam 4 sore ibu saya sampai di kecamatan (itu juga katanya). Ibu saya ikut mengantri, dan tidak disangka, antrian begitu panjang, Sampai maghrib, ibu saya belum sampai di rumah, akhirnya kira-kira jam 7 malem saya susul ke kecamatan, waduh! Udah mah antrian panjang, banyak yang ‘nyele’ pula, ya uwis terpaksa saya menunggu, sebenarnya sih bisa aja saya ikut ‘nyele’. Tapi kasian yang sudah antri, karena saya pun gak mau juga kalau di’sele’.

Tapi rupanya kami masih beruntung, sepertinya Hari Senin adalah hari yang agak lowong untuk mengantri, karena tetangga saya yang antri besoknya, antriannya puanjaaaaanng banget. Lupa saya kalau dia sampai di kecamatannya jam berapa, tapi gilirannya sih dapetnya jam 2 siang. Hmm..!!

NB: saya yang lagi belajar nulis