Updates from November, 2017 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • gatoti 22:04 on November 7, 2017 Permalink | Reply
    Tags: ab, darah, donor, golongan, kemanusiaan, komersialisasi, pencari, populasi   

    Donor Darah? [Antara Sisi Kemanusiaan dan Komersialisasi] 

    Entah judul tulisan ini tepat atau tidak, namun ada kisah yang buat saya mengharukan dari seorang pencari donor darah untuk sang anak yang harus cuci darah setidaknya 1 bulan sekali. Kisah ini sudah agak lama sebenarnya, sekira 2 tahun yang lalu.
    Berawal dari duduk-duduk sendirian melepas rasa jenuh sambil minum kopi di deretan trotoar RSHS, tiba-tiba ada seorang bapak menghampiri saya, dengan ramah dia menyapa saya, dan tak lama pun kami berbincang dengan cerita seputar menunggu/mendampingi pasien di rumah sakit. Saya mendampingi kakak saya yang kemoterapi, sedangkan bapak itu mendampingi anaknya yang sedang cuci darah dikarenakan anaknya pernah mengalami kecelakaan motor, karena terlalu banyak mengkonsumsi obat untuk penyembuhan cedera pada bagian kepala, dan ginjalnya pun harus bekerja keras hingga akhirnya kurang berfungsi sebagaimana mestinya.
    Saya cukup awam dengan istilah cuci darah dan ginjal, hanya sebatas pengetahuan saya (yang sudah lupa dengan pelajaran biologi), ginjal kurang berfungsi sebagaimana mestinya, dan harus cuci darah ditambah transfusi darah, untuk lebih lengkapnya hubungan antara cuci darah dengan transfusi darah, bisa dilihat pada link ini.
    Nah.. ternyata si anaknya bapak ini darahnya golongan AB, yang katanya cukup sulit untuk didapat, dikarenakan juga memang populasi manusia yang bergolongan darah AB lebih sedikit dibandingkan dengan golongan darah A, B dan O. Menurut data dari link ini, untuk golongan darah AB hanya sekira 4% dari jumlah penduduk dunia, apakah ini masih relevan atau tidak, saya tidak tahu. Mengandalkan stok darah di PMI juga tidak bisa, dengan kata lain sering kosong. Pada akhirnya yang bisa diharapkan pun mencari pendonor darah sendiri, si bapak ini pun sempat menunjukkan selembar kertas dengan deretan daftar nama-nama yang bisa di kontak sebagai pendonor darah AB.

    (More …)

     
  • gatoti 02:44 on August 16, 2013 Permalink | Reply
    Tags: 17 agustus, galang dana, identik, kemerdekaan, sumbangan, tengah jalan   

    17-an Identik dengan Penggalangan Dana di Tengah Jalan? 

    Baru inget saya, sebentar lagi adalah tanggal 17 Agustus yang setiap tahunnya dirayakan untuk memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Berbagai macam bentuk apresiasi biasa dilakukan masyarakat Indonesia, dan apresiasi yang paling sangat biasa digelar adalah berbagai macam bentuk kegiatan perlombaan dan pentas seni. Saya tidak akan membahas apa arti/makna dari kemerdekaan itu sendiri, juga bentuk kegiatannya apa saja, tapi yang akan saya soroti di sini adalah bentuk penggalangan dana untuk terlaksananya kegiatan-kegiatan itu.

    Menurut saya, sebenarnya cukup dengan menggalang dana dari warganya sendiri di mana warga berdomisilinya (door to door). Apakah ada aturannya harus mewah? Apakah sumbangan dari warga RT/RW setempat tidak mencukupi? Apakah salah kalau dilakukan dengan cara yang sederhana saja? Mungkin saja ada yang menjawab, “Ya kalau dananya terlalu minim juga gak seru.”

    Baiklah, tapi menurut hemat saya, haruskah menggalang dana di tengah jalan? Apakah mereka sadar kalau itu membahayakan diri mereka sendiri maupun orang lain sesama pengguna jalan? Apakah mereka juga sadar kalau itu mengganggu ketertiban lalu lintas?

    Tidak sedikit pula sebagian dari mereka ini ada yang memaksa, biasanya sih mereka yang sambil berjualan (baca: agak meresahkan).

    Salam Damai..

     
  • gatoti 15:28 on October 20, 2012 Permalink | Reply
    Tags: , , , , , ,   

    Ada yang Aneh dari Speedy, 384Kbps jadi 512Kbps? 

    Sedari dini hari, perasaan ada sedikit keanehan sama kecepatan koneksi broadband Telkom-Speedy, saya berlangganan yang paket 384Kbps, koq mendadak dapet kecepatan 512Kbps yah? Ngaruhnya gk banyak juga, tapi lumayan dengan harga langganan yang 200-ribuan per bulan (+pajak). Tapi sebenernya ini pun untuk di Indonesia masih terlalu mahal. Mudah-mudahan seterusnya, kalau menurut  berita sih Telkom-Speedy lagi upgrade jaringan ke fiber optic, nah yang kecepatan 384Kbps juga (katanya) akan di-upgrade jadi 512Kbps. Harga tetap — kecepatan nambah, unlimited pula.. 🙂

     
  • gatoti 16:36 on October 15, 2012 Permalink | Reply
    Tags: ahok, dki, gubernur, indonesia, jokowi   

    Jokowi – Ahok jadi Gubernur DKI, Seluruh Indonesia Harus Tahu? 

    Sudah beberapa bulan terakhir ini, media cetak maupun elektronik sangat gencar dengan pemberitaan pasangan Jokowi – Ahok, dari bakal calon hingga akhirnya dilantik sebagai Gubernur DKI. Bukan hanya pasangan terpilih saja, tapi buat pasangan lainnya juga. Cukup sudah, bosaaaannnn..

    Nah kenapa tiba-tiba saya menulis ini, buat saya — pertanyaannya simple ajah, “Emang pengaruhnya buat saya apa?” Saya bukan warga DKI, saya tidak domisili di DKI, soooo.. what’s up?!

     
    • gatoti 00:13 on August 28, 2014 Permalink | Reply

      hmm.. ada juga yang komentar di postingan saya ini, tapi maaf, komentar anda saya moderasi, walaupun bernada positif, tapi tidak sesuai dengan konsep blog saya ini .
      mungkin video youtube ini bisa ini bisa mewakili apa yang saya maksud:
      klik disini.

  • gatoti 00:25 on July 2, 2012 Permalink | Reply
    Tags: antrian, e-ktp, foto retina, kecamatan, ktp   

    E-KTP di Kecamatan 

    Hari Senin pertengahan Bulan Juni kemaren, saya dan kakak mengantri di kecamatan untuk antrian perekaman data E-KTP. Sedikit terasa khawatir akan antrian panjang, tapi untungnya tidak juga. Kami datang pagi sekitar jam 7.30-an dan mendapat urutan 78 dan 79. Tadinya saya kira akan diberi nomor antrian dan bisa ditinggal pergi dulu, tapi ternyata tidak, datang — isi daftar urutan — langsung duduk antrian sesuai dengan daftar urutan. Yah terpaksa gak jadi gak kemana-mana lagi deh. Duduk manis aja ah.. 😛

    Sambil mengantri, kami sempat berbincang dengan sesama pengantri, topiknya masih berhubungan dengan KTP juga. Ada salah satu di antara sesama pengantri cerita, seorang ibu tidak terlalu tua yang berprofesi guru, dia mencoba untuk memperpanjang KTP secara resmi, yang memang katanya gratis. Gratis sih gratis, ya itu, bolak-balik seperti diping-pong, dan jadinya 2 bulan pula, hehe.. dasar birokrasi!

    Tak terasa, antrian yang tidak begitu panjang, pindah kursi ke kursi yang lebih depan, akhirnya tiba giliran kami, jam menunjukkan sekitar pukul 9.00. Serahkan data NIK (Nomor Induk Kependudukan) — validasi golongan darah — jepret foto tidak berkacamata — tanda tangan — scan sidik jari — dan tanda tangan kembali untuk pernyataan. Mudah bukan?

    Waktu yang dibutuhkan berkisar 3-5 menit per-orang, ada dua meja komputer. Dengan asumsi 1 orang 4 menit waktu perekaman data, maka dalam 1 jam bisa melayani:
    60 / 4 = 15
    15 x 2 = 30 orang terlayani dalam 1 jam
    Jadi tinggal dihitung saja, dapet nomor urutan berapa kira-kira dapet giliran jam berapa. Selamat mengantriiii… 😛

    Masih seputar antri-mengantri,, saya ingat ibu saya cerita, inginnya sih cepat-cepat untuk berpartisipasi perekaman data E-KTP ini, kira-kira jam 4 sore ibu saya sampai di kecamatan (itu juga katanya). Ibu saya ikut mengantri, dan tidak disangka, antrian begitu panjang, Sampai maghrib, ibu saya belum sampai di rumah, akhirnya kira-kira jam 7 malem saya susul ke kecamatan, waduh! Udah mah antrian panjang, banyak yang ‘nyele’ pula, ya uwis terpaksa saya menunggu, sebenarnya sih bisa aja saya ikut ‘nyele’. Tapi kasian yang sudah antri, karena saya pun gak mau juga kalau di’sele’.

    Tapi rupanya kami masih beruntung, sepertinya Hari Senin adalah hari yang agak lowong untuk mengantri, karena tetangga saya yang antri besoknya, antriannya puanjaaaaanng banget. Lupa saya kalau dia sampai di kecamatannya jam berapa, tapi gilirannya sih dapetnya jam 2 siang. Hmm..!!

    NB: saya yang lagi belajar nulis

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel